


{"id":15018,"date":"2026-04-28T02:48:47","date_gmt":"2026-04-28T02:48:47","guid":{"rendered":"https:\/\/dibalikfakta.com\/?p=15018"},"modified":"2026-04-28T02:48:47","modified_gmt":"2026-04-28T02:48:47","slug":"lapas-tondano-buka-diri-media-diberi-akses-tanpa-batas-transparansi-diuji-terbuka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dibalikfakta.com\/?p=15018","title":{"rendered":"\u200eLapas Tondano Buka Diri: Media Diberi Akses Tanpa Batas, Transparansi Diuji Terbuka"},"content":{"rendered":"<p><strong>Dibalikfakta.com<\/strong> &#8211; Langkah berani ditunjukkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tondano. Tak sekadar seremoni, Kepala Lapas Yulius Jum Hertantono menggelar media gathering yang berubah menjadi forum terbuka penuh kritik dan uji transparansi, Senin (22\/4\/2026).<img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15019\" src=\"https:\/\/dibalikfakta.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot_2026-04-28-10-42-16-50_6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7.jpg\" alt=\"\" width=\"861\" height=\"509\" srcset=\"https:\/\/dibalikfakta.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot_2026-04-28-10-42-16-50_6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7.jpg 861w, https:\/\/dibalikfakta.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot_2026-04-28-10-42-16-50_6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7-768x454.jpg 768w, https:\/\/dibalikfakta.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot_2026-04-28-10-42-16-50_6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7-150x89.jpg 150w, https:\/\/dibalikfakta.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Screenshot_2026-04-28-10-42-16-50_6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7-450x266.jpg 450w\" sizes=\"(max-width: 861px) 100vw, 861px\" \/><br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBertempat di halaman rumah dinas Kalapas, suasana berlangsung cair namun tajam. Para jurnalis diberi ruang luas untuk mengajukan pertanyaan tanpa batas, mengupas berbagai isu pemasyarakatan yang selama ini kerap tertutup dari publik.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cMedia adalah mitra strategis. Pemberitaan yang objektif menjadi jembatan agar masyarakat memahami bahwa pembinaan di lapas berjalan secara humanis dan berkelanjutan,\u201d tegas Yulius.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePernyataan ini menjadi penegasan sikap. Di tengah sorotan terhadap sistem pemasyarakatan, Lapas Tondano memilih tidak bersembunyi, melainkan membuka diri terhadap kontrol publik sekaligus membangun kepercayaan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDialog berlangsung dinamis dan terbuka. Insan pers tak hanya menerima informasi, tetapi juga melontarkan kritik, masukan, hingga perspektif tajam.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSituasi ini menjadi sinyal kuat bahwa Lapas Tondano siap diuji secara terbuka bukan sekadar mencari citra positif.<br \/>\n\u200eMomentum ini juga memperkuat sinergi antara petugas lapas dan media sebagai pilar kontrol sosial.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eHarapannya, pemberitaan tidak hanya informatif, tetapi juga edukatif, terutama dalam meluruskan persepsi publik terkait proses pembinaan warga binaan yang selama ini kerap disalahartikan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDengan langkah ini, Lapas Kelas IIB Tondano menegaskan arah baru: transparansi sebagai komitmen utama, pendekatan humanis sebagai fondasi pembinaan, serta kolaborasi dengan media sebagai kunci membangun kepercayaan publik.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKegiatan ditutup dengan sesi foto bersama bukan sekadar formalitas, melainkan simbol bahwa jarak antara lembaga dan media kini semakin terbuka..(Oby)<br \/>\n\u200e<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dibalikfakta.com &#8211; Langkah berani ditunjukkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tondano. Tak sekadar seremoni, Kepala Lapas Yulius Jum Hertantono menggelar media gathering yang berubah menjadi forum terbuka penuh kritik dan uji transparansi, Senin (22\/4\/2026). \u200e \u200eBertempat di halaman rumah dinas Kalapas, suasana berlangsung cair namun tajam. Para jurnalis diberi ruang luas untuk mengajukan pertanyaan tanpa<\/p>\n","protected":false},"author":31,"featured_media":15020,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[184,28,1,232,74],"tags":[],"class_list":{"0":"post-15018","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-gaming-zone","8":"category-kabar-indonesia","9":"category-ekonomi","10":"category-nasional","11":"category-tni-polri"},"views":3,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15018","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/31"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15018"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15018\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15021,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15018\/revisions\/15021"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/15020"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15018"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15018"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15018"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}