


{"id":16739,"date":"2026-10-27T06:59:24","date_gmt":"2026-10-27T06:59:24","guid":{"rendered":"https:\/\/dibalikfakta.com\/?p=16739"},"modified":"2026-10-27T06:59:24","modified_gmt":"2026-10-27T06:59:24","slug":"jembatan-kaca-danau-laguna-ternate-digagas-jadi-ikon-wisata-baru-maluku-utara-anggaran-konsep-capai-rp62-miliar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dibalikfakta.com\/?p=16739","title":{"rendered":"Jembatan Kaca Danau Laguna Ternate Digagas Jadi Ikon Wisata Baru Maluku Utara, Anggaran Konsep Capai Rp6,2 Miliar"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\">\n<p dir=\"ltr\">TERNATE, <a href=\"http:\/\/Dibalikfakta.com\">Dibalikfakta.com<\/a> \u2014 Potensi keindahan alam Danau Laguna, Kelurahan Ngade, Kota Ternate, Maluku Utara, kembali menjadi perhatian melalui gagasan pengembangan destinasi wisata berbasis panorama alam. Salah satu konsep yang diusulkan adalah pembangunan Jembatan Kaca Danau Laguna sepanjang 240 meter yang diharapkan mampu menjadi ikon wisata baru sekaligus meningkatkan daya tarik pariwisata Kota Ternate.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Danau Laguna dikenal memiliki panorama alam yang memikat dengan latar Pulau Maitara, Pulau Tidore, serta Gunung Gamalama. Perpaduan pemandangan danau, laut, dan pegunungan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Melalui konsep pembangunan jembatan kaca, pengunjung nantinya diharapkan dapat menikmati keindahan panorama Danau Laguna dari sudut pandang berbeda. Selain menawarkan pengalaman berjalan di atas jembatan transparan, fasilitas ini dirancang menjadi ruang rekreasi, lokasi fotografi, serta daya tarik wisata yang dapat memperpanjang waktu kunjungan wisatawan di kawasan tersebut.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Gagasan ini mengadopsi inspirasi destinasi jembatan dan skybridge yang berkembang di sejumlah negara, dengan penyesuaian terhadap karakteristik alam dan kondisi geografis Kota Ternate.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Konsep Jembatan Modern Sepanjang 240 Meter<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dalam rancangan awal yang diusulkan, Jembatan Kaca Danau Laguna memiliki panjang sekitar 240 meter dengan lebar 2,3 meter. Desainnya mengusung konsep modern minimalis dengan sistem struktur kabel atau cable-stayed, yang direncanakan menggunakan dua tiang utama sebagai bagian dari sistem penopang.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Lantai jembatan direncanakan menggunakan kaca laminasi berlapis dengan spesifikasi yang harus ditentukan melalui perhitungan teknis dan pengujian keselamatan. Sementara itu, struktur pendukung dirancang menggunakan baja yang sesuai dengan kebutuhan konstruksi di wilayah pesisir, dengan mempertimbangkan risiko korosi, beban pengunjung, serta kondisi kegempaan di wilayah Maluku Utara.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Untuk menunjang kenyamanan dan keamanan, rancangan tersebut juga mencakup pagar pengaman, sistem pencahayaan LED pada malam hari, serta area khusus untuk menikmati panorama dan berfoto dengan latar Pulau Maitara dan Tidore.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Meski demikian, seluruh spesifikasi material, dimensi struktur, kapasitas beban, dan sistem pondasi masih perlu dibuktikan melalui kajian teknis oleh tenaga ahli sebelum dapat ditetapkan sebagai desain konstruksi final.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kelestarian Danau dan Perizinan Menjadi Prioritas<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pengembangan kawasan wisata Danau Laguna perlu memperhatikan kelestarian lingkungan sebagai bagian utama dari perencanaan. Sebelum pembangunan dilaksanakan, diperlukan kajian mengenai kondisi tanah dan tebing, karakteristik hidrologi, kualitas air, potensi dampak terhadap ekosistem danau, serta keberadaan kawasan lindung di sekitarnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Penentuan dokumen lingkungan juga harus mengikuti ketentuan yang berlaku berdasarkan skala dan karakteristik proyek. Pemeriksaan tata ruang, status penguasaan lahan, persetujuan bangunan, serta rekomendasi atau persetujuan dari instansi berwenang perlu diselesaikan sebelum pekerjaan fisik dimulai.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Penggunaan sistem pondasi yang sesuai dengan kondisi tanah menjadi salah satu aspek penting. Metode konstruksi harus ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan geoteknik agar pembangunan tidak menimbulkan dampak yang tidak diinginkan terhadap badan air, kestabilan tebing, maupun lingkungan sekitar.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dengan perencanaan yang matang, gagasan pembangunan jembatan kaca diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga keaslian dan keindahan alam Danau Laguna.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Rancangan Anggaran Awal Rp6,2 Miliar<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Berdasarkan konsep awal yang diusulkan, kebutuhan anggaran pembangunan jembatan kaca sepanjang 240 meter diperkirakan mencapai Rp6,2 miliar. Nilai tersebut merupakan estimasi awal yang masih memerlukan verifikasi melalui perencanaan teknis terperinci dan perhitungan biaya konstruksi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Adapun komponen anggaran yang diusulkan meliputi:<\/p>\n<p dir=\"ltr\">1. Pekerjaan pondasi dan dua tiang utama berbahan beton-baja sebesar Rp900 juta.<br \/>\n2. Pekerjaan rangka baja sebesar Rp1,8 miliar.<br \/>\n3. Pengadaan dan pemasangan lantai kaca seluas sekitar 552 meter persegi sebesar Rp2,2 miliar.<br \/>\n4. Sistem kabel dan pagar pengaman sebesar Rp600 juta.<br \/>\n5. Desain teknis, rekayasa konstruksi, dan tenaga kerja sebesar Rp700 juta.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Total estimasi tersebut mencapai Rp6,2 miliar. Namun, angka ini belum dapat dianggap sebagai anggaran final sebelum dilakukan survei lapangan, penyusunan desain teknik terperinci, pemeriksaan harga material, serta evaluasi kebutuhan pekerjaan pendukung.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kebutuhan biaya tambahan, seperti akses menuju lokasi, fasilitas keselamatan, sistem evakuasi, penerangan, pengelolaan kawasan, dan fasilitas penunjang pengunjung, juga perlu diperhitungkan apabila belum termasuk dalam estimasi awal.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Konstruksi Diusulkan Berlangsung 6\u20138 Bulan<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dalam konsep awal, pelaksanaan pembangunan diperkirakan memerlukan waktu sekitar enam hingga delapan bulan setelah seluruh persyaratan perizinan, pendanaan, desain teknis, dan kesiapan lokasi terpenuhi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pekerjaan direncanakan berlangsung dalam tiga tahapan utama.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Tahap pertama meliputi persiapan lokasi, penyelidikan tanah, dan pembangunan pondasi sesuai hasil kajian teknis. Tahap kedua mencakup fabrikasi serta perakitan struktur baja, pemasangan sistem kabel, dan penyelesaian struktur utama. Tahap ketiga meliputi pemasangan panel kaca, penyelesaian fasilitas keselamatan, pemeriksaan mutu, serta pengujian struktur sebelum dilakukan penilaian kelayakan untuk pembukaan bagi masyarakat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Seluruh tahapan harus diawasi tenaga ahli yang kompeten. Pengujian beban, pemeriksaan sambungan, ketahanan material, dan prosedur keselamatan pengunjung menjadi persyaratan penting yang tidak dapat dikurangi demi mengejar efisiensi anggaran ataupun waktu pengerjaan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pelibatan tenaga kerja lokal juga dapat menjadi salah satu prioritas dalam pelaksanaan proyek, sepanjang sesuai dengan kebutuhan kompetensi dan standar keselamatan kerja.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Potensi Ekonomi dan Peluang Meningkatkan PAD<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Selain menawarkan daya tarik wisata baru, Jembatan Kaca Danau Laguna berpotensi membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Aktivitas wisata dapat mendorong pertumbuhan usaha kuliner, penjualan produk lokal, jasa fotografi, pengelolaan parkir, hingga peluang kerja di sektor pelayanan wisata.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dalam skema awal yang diusulkan, harga tiket masuk diperkirakan berada pada kisaran Rp<a href=\"tel:35000\">35.000<\/a> hingga Rp<a href=\"tel:50000\">50.000<\/a> per orang. Pendapatan tambahan berpotensi diperoleh melalui pengelolaan fasilitas penunjang, apabila dikembangkan dan dioperasikan sesuai ketentuan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Meski demikian, potensi pendapatan asli daerah (PAD) dan waktu pengembalian investasi belum dapat dipastikan hanya berdasarkan harga tiket. Perhitungannya perlu mempertimbangkan jumlah pengunjung harian, hari operasional, biaya pemeliharaan kaca dan struktur, tenaga kerja, asuransi, pajak, biaya keselamatan, serta pembagian pendapatan antara pemerintah dan pengelola.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kajian kelayakan bisnis menjadi penting agar proyek yang direncanakan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga berkelanjutan secara ekonomi dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pembangunan Bertahap Bisa Menjadi Alternatif<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Untuk mengendalikan risiko investasi, konsep awal tersebut juga mengusulkan pembangunan secara bertahap, dimulai dari segmen sepanjang 120 meter dengan estimasi anggaran sekitar Rp3,2 miliar.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Skema bertahap dapat menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan apabila hasil kajian teknis menunjukkan bahwa pembangunan parsial memungkinkan secara struktural, operasional, dan ekonomis. Namun, kebutuhan anggarannya tetap harus dihitung berdasarkan desain tersendiri, karena pengurangan panjang jembatan tidak selalu berbanding lurus dengan pengurangan biaya konstruksi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dengan demikian, keputusan mengenai panjang jembatan dan tahapan pembangunan perlu didasarkan pada hasil studi kelayakan, kajian lingkungan, serta analisis keselamatan dan manfaat ekonomi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kolaborasi Pemerintah dan Investor Dibutuhkan<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Gagasan Jembatan Kaca Danau Laguna diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Pemerintah Kota Ternate, pelaku usaha pariwisata, investor lokal, serta pemangku kepentingan lainnya dalam merancang pengembangan destinasi wisata yang inovatif.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dukungan tersebut perlu diawali dengan evaluasi menyeluruh terhadap potensi kawasan, kebutuhan infrastruktur, dampak lingkungan, kesiapan perizinan, serta model pengelolaan yang transparan dan bertanggung jawab.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Apabila hasil kajian menunjukkan bahwa proyek ini layak dilaksanakan, Jembatan Kaca Danau Laguna berpeluang menjadi salah satu daya tarik wisata yang memperkuat citra Kota Ternate sebagai daerah dengan kekayaan panorama alam yang khas di Indonesia Timur.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pada akhirnya, pengembangan pariwisata tidak hanya berorientasi pada pembangunan ikon baru, tetapi juga harus memastikan bahwa keindahan alam tetap terjaga, keselamatan pengunjung menjadi prioritas, dan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Catatan redaksi: Rancangan jembatan kaca, estimasi anggaran Rp6,2 miliar, harga tiket, dan jadwal pembangunan dalam tulisan ini merupakan gagasan awal yang disampaikan untuk perencanaan. Informasi tersebut belum menunjukkan bahwa proyek telah disetujui pemerintah, memperoleh perizinan, atau dinyatakan layak secara teknis dan finansial.(SA\/Team)<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><a href=\"http:\/\/Dibalikfakta.com\">Dibalikfakta.com<\/a> \u2014 Mengungkap Fakta, Menyuarakan Kebenaran.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TERNATE, Dibalikfakta.com \u2014 Potensi keindahan alam Danau Laguna, Kelurahan Ngade, Kota Ternate, Maluku Utara, kembali menjadi perhatian melalui gagasan pengembangan destinasi wisata berbasis panorama alam. Salah satu konsep yang diusulkan adalah pembangunan Jembatan Kaca Danau Laguna sepanjang 240 meter yang diharapkan mampu menjadi ikon wisata baru sekaligus meningkatkan daya tarik pariwisata Kota Ternate. Danau Laguna<\/p>\n","protected":false},"author":37,"featured_media":16740,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[231],"tags":[],"class_list":{"0":"post-16739","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-daerah"},"views":23,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16739","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/37"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=16739"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16739\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16741,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16739\/revisions\/16741"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/16740"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=16739"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=16739"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dibalikfakta.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=16739"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}