DIBALIK FAKTA, KOTAMOBAGU-Keresaan bagi masyarakat penambang emas yang ber ada di Kabupaten Bolaang Mongndow Raya (BMR) Provinsi Sulawesi Utara, sulitnya menjual emas pasca pemeriksaan sejumlah pembeli emas yang tersebar di Kotamobagu oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Utara (Sulut) awal Maret lalu, perlahan mulai membaik.
“Jadi, Pasca penggeledahan di toko-toko emas yang berada diwilayah Sulut membuat penjual dan pembeli emas pada ketakutan beraktivitas, namun muncullah sejumlah pengusaha mendengar jeritan penambang rakyat dan siap menampung emas dari hasil para penambang rakyat.
Salah satunya pengusaha muda asal Kota Kotamobagu berinisial GRL. Sosok GRL muncul di tengah-tengah kebutuhan para penambang kecil dalam memasarkan emas mereka, dan akhirnya terjawab juga.
Pengusaha muda GRL berani mengambil risiko demi menyelematkan para nasib penambang manual. Bahkan, sumber yang dekat dengan GRL menyebut, pengusaha muda itu juga berinisiatif menggandeng para investor yang siap menyerap emas dari hasil tambang rakyat manual.
Tentu langkah GRL bukan tanpa risiko. Di tengah situasi yang masih sensitif, ia justru “Pasang Badan”. Baginya, ini bukan sekadar urusan bisnis atau mencari keuntungan semata, melainkan tentang kemanusiaan dan menjaga agar ekonomi masyarakat kecil tidak mati suri, “katanya. Sabtu 4 April 2026
“Kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi? Mereka (Penambang) karena hanya ingin menyambung hidup. Emas yang mereka dapatkan itu hasil kerja keras yang luar biasa, “ujar Chan, salah satu kerabat dekat dari GRL.
Katanya, semangat dan keberanian sang pembela penambang kecil ini memantik persaingan sesama pembeli emas.
Fenomena di media sosial mulai bermunculan jasa pembelian emas. Namun, bagi para penambang emas, sosok GRL tetap memiliki tempat tersendiri. GRL dinilai sebagai pionir yang berani muncul di saat situasi sedang sulit-sulitnya.
“Fenomena ini mengajarkan satu hal penting bahwa di balik setiap butiran emas yang terjual, ada perjuangan hidup yang harus dihargai, “tuturnya Chan.
Apa yang dilakukan oleh Chan bukan hanya tentang transaksi emas, melainkan tentang keberanian untuk berdiri di sisi masyarakat kecil disaat sistem sedang tidak berpihak pada mereka. “Di BMR, emas mungkin bisa ditimbang beratnya. Namun, keberanian untuk membantu sesama di masa sulit adalah sesuatu nilainya tak terhingga, “pungkasnya Chan.
(Hengky Kaunang)



