Manado – dibalikfakta.com – Kondisi darurat melanda Kota Manado akibat kebakaran yang melibatkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo. Walikota Andrei Angouw mendapat sorotan tajam dari masyarakat karena ketidakmampuannya mengatasi masalah ini.
Sebuah keluhan massal meluap di media sosial, khususnya dalam sebuah grup Facebook, membeberkan ketidakpuasan warga setempat terhadap penanganan kebakaran yang sudah berlangsung selama sebulan penuh. Para warga mengeluhkan bahwa upaya penanggulangan dari pihak berwenang, terutama mobil pemadam kebakaran, tidak mampu menjangkau titik api, meninggalkan mereka terpapar asap yang bisa menyebabkan penyakit ISPA
Seorang warga yang sering lewat di sekitar TPA Sumompo menyatakan, “Menghirup asap di sini rasanya mau muntah dan pusing. Bagaimana dengan kesehatan anak-anak kecil yang tinggal di sekitar sini? Apa kita harus menunggu mujizat atau bahkan hujan untuk mengakhiri penderitaan ini?”
Kekhawatiran terhadap dampak kesehatan menjadi sorotan utama, dengan banyak warga melaporkan gejala mual dan pusing akibat asap yang terus menerus mereka hirup. Masyarakat mempertanyakan efektivitas tindakan aparat yang seakan hanya sebatas upaya simbolis dengan mobil damkar yang tidak mampu menangani situasi yang semakin kritis.
Panggilan agar pihak berwenang mengambil tindakan cepat dan efektif mengalir deras di media sosial. Warga meminta agar pemerintah segera merespons keluhan ini dan melakukan upaya maksimal untuk memadamkan api serta melindungi kesehatan mereka.
Terkait dengan kondisi yang memprihatinkan ini, masyarakat mengajukan pertanyaan keras kepada Walikota Manado, Andrei Angouw: “Apa yang sedang dilakukan untuk mengakhiri penderitaan ini? Apakah kita hanya bisa berharap pada mujizat atau hujan?”
Kritik tajam dari warga ini menjadi sorotan dan memicu seruan agar informasi ini disebarluaskan lebih luas. Warga meyakini bahwa hanya melalui viralitas masalah ini, pihak berwenang akan merespons dengan serius dan mengambil tindakan nyata untuk mengatasi bencana ini. Mereka bersatu untuk memastikan bahwa suara mereka didengar, karena, seperti yang diungkapkan salah seorang warga, “di negara ini, kalo tidak viral, tidak ada penyelesaiannya.” 11/11/2023
( *** Tim )



