Dibalikfakta.com-
JAKARTA – Suasana khidmat menyelimuti Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026). Di tengah rangkaian ziarah dalam rangka memperingati HUT ke-62 Provinsi Sulawesi Utara, sebuah momen haru terjadi di pusara Gubernur pertama Sulawesi Utara, F.J. “Broer” Tumbelaka.
Rombongan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara yang dipimpin Gubernur Yulius Selvanus bersama Wakil Gubernur J. Victor Mailangkay datang untuk memberikan penghormatan kepada para tokoh dan pendahulu yang telah berjasa bagi daerah.
Namun, perhatian kemudian tertuju pada sosok Taufik M. Tumbelaka, putra bungsu F.J. Tumbelaka.
Taufik mengikuti prosesi dari barisan belakang. Sejak awal, matanya tampak berkaca-kaca. Rasa haru yang dipendamnya seolah pecah ketika dirinya dipanggil untuk melakukan tabur bunga di makam sang ayah.
Dengan langkah perlahan, Taufik mendekati pusara. Air matanya tak lagi terbendung. Bunga yang berada di tangannya dicium sebelum kemudian ia bersimpuh di hadapan makam sang ayah.
Dalam suasana yang hening, Taufik memeluk papan salib yang bertuliskan nama F.J. Tumbelaka. Isak tangis dan ungkapan maaf lirih keluar dari bibirnya.
Pemandangan tersebut membuat suasana di sekitar pusara semakin haru. Para pejabat dan sejumlah Perwira Tinggi TNI yang hadir turut menyaksikan momen emosional tersebut dengan penuh keheningan.
Tangis Taufik bukan tanpa alasan. Ziarah tersebut menjadi momen istimewa karena untuk pertama kalinya setelah sekitar 11 tahun, ia kembali menapakkan kaki di makam sang ayah.
Selama lebih dari satu dekade, Taufik memilih menghabiskan waktunya di Manado untuk merawat sang ibunda, almarhumah NZ Tumbelaka Ticoalu, hingga akhirnya meninggal dunia pada akhir Desember 2022.
Setelah prosesi tabur bunga selesai, suasana haru kembali terasa ketika Taufik diajak bergabung dalam foto bersama di depan pusara sang ayah.
Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus kemudian secara spontan merangkul pundak Taufik. Pelukan tersebut menjadi simbol penguatan sekaligus bentuk empati kepada putra seorang tokoh yang memiliki sejarah penting bagi Sulawesi Utara.
Momen sederhana itu menjadi penutup yang menghangatkan rangkaian ziarah. Di balik prosesi kenegaraan dan penghormatan kepada para pahlawan, terselip kisah seorang anak yang akhirnya kembali berdiri di pusara ayahnya setelah bertahun-tahun.
Bagi keluarga Tumbelaka, ziarah itu bukan sekadar rangkaian peringatan HUT Sulut. Ada kerinduan, penghormatan, penyesalan, sekaligus cinta seorang anak kepada sosok ayah yang jasanya terus dikenang.
Dan di pusara F.J. “Broer” Tumbelaka, air mata Taufik menjadi kesaksian bahwa waktu yang panjang tidak pernah benar-benar menghapus rasa kehilangan seorang anak kepada orang tuanya.
(ST)



